Arsip Harian: April 16, 2008

5 Gaya Ibu

1. Super sibuk
Ibu yang super sibuk tidak pernah diam dan selalu siap untuk pergi, baik dari kantor ke pusat kebugaran, dari supermarket ke tempat les anak, dari dokter gigi ke acara pengajian, dan sebagainya. Jadwal si ibu sangat padat dan sudah pasti berdampak pada jadwal anak-anaknya. Dia tidak menyadari bahwa waktunya menjadi tersisa sangat sedikit untuk relaksasi atau hanya sekadar berkumpul bersama keluarga.

Ibu yang super sibuk sangat andal dalam memberikan kesempatan kepada anaknya untuk mengenal dan mempelajari hal-hal baru, seperti les balet, melukis atau kegiatan lainnya tetapi dia tidak menyadari bahwa keluarganya membutuhkan kebersamaan walaupun hanya untuk melakukan hal-hal yang sederhana.

2. Over Protektif
Ibu yang over protektif memusatkan perhatiannya pada keadaan fisik, mental, spiritual, dan kadang-kadang kehidupan sosial anaknya. Dia mengkhawatirkan kemungkinan akibat yang negatif dari setiap situasi terjadi pada anaknya. Ibu yang over protektif merupakan juara bagi kesehatan dan keselamatan anaknya dan tahu mengenai kemungkinan bahaya yang dihadapi oleh anaknya di dunia nyata.

Di sisi lain, ibu yang termasuk tipe ini biasanya mencegah anaknya untuk mandiri ataupun melakukan sesuatu tanpa pengawasannya. Hasilnya akan lahir seorang anak yang nantinya, setelah dewasa, terbentuk menjadi seseorang yang akan selalu bermain aman bila dia harus mengambil risiko.

3. Sahabat
Ibu yang seperti sahabat sangat sulit untuk mengatakan TIDAK kepada anak-anaknya. Baik karena dia percaya dengan otonomi anak-anaknya atau karena dia ingin menghindari konfrontasi. Ibu yang termasuk tipe ini lebih senang untuk tidak membatasi anak-anaknya dan menghindari hukuman.

Ibu yang selalu menciptakan surga di dalam rumah, dimana anak-anak merasakan aman karena berada bersamanya, ternyata membentuk anak-anak yang stres dan tak mampu berhadapan dengan situasi yang butuh pertanggungjawaban mereka. Hal ini disebabkan karena anak-anak tidak terbiasa dihadapkan kepada adanya batasan dan konsekuensi.

4. Diktator
Ibu yang termasuk tipe ini selalu memberikan komunikasi satu arah; dia tidak pernah bertanya ataupun menegur. Dia tahu apa yang terbaik untuk keluarganya dan tidak akan pernah mau mendengar argumentasi ataupun sanggahan. Ternyata ibu yang diktator dan percaya diri dengan kemampuannya sebagai orangtua serta nilai dan keputusan yang diambilnya, dapat membuat anak-anaknya merasa tidak dapat memberikan pendapatnya bahkan di dalam rumahnya sendiri dan membentuk mereka menjadi orang yang kurang percaya diri.

5. Menuntut yang terbaik
Ibu yang termasuk jenis ini mengatur keluarganya seperti bisnis, lengkap dengan daftar yang harus dikerjakan, kalender dan perintah yang terperinci bahkan untuk kegiatan sehari-hari. Tujuannya adalah keberhasilan untuk semua anggota keluarga. Ibu yang termasuk jenis ini sangat rapi dan berusaha keras agar kegiatan yang harus dilakukan oleh anggota keluarganya berjalan lancar. Namun, tujuannya sering membuat anak-anaknya tidak sejalan dengan keinginannya dan merasa tidak sanggup untuk mengikuti kehendaknya atau membuat anak-anak khawatir mereka akan mengecewakan ibunya bila mereka tidak mengikuti perintahnya.

Ke lima gaya yang disebutkan di atas tentu saja ada sisi positif dan negatifnya. Sebagai orangtua ada saatnya kita harus bersikap otoriter, peka dengan masa depan anak-anak, percaya diri dan melindungi anak-anak dari bahaya dan menyiapkan jadwal kegiatan mereka. Tetapi apa yang sangat perlu kita sadari adalah bagaimana dampak dari gaya yang kita jalankan terhadap anak-anak kita. Mungkin satu gaya cocok untuk satu anak tapi tidak untuk anak yang lainnya.

Reaksi yang diberikan oleh tiap anak dapat berbeda-beda terhadap gaya orangtua yang sama. Ada anak yang mungkin merasa tertekan sementara ada anak yang memberikan reaksi yang negatif . Tidak peduli gaya orangtua yang mana yang Anda jalankan, yang terpenting adalah Anda harus sadar bahwa gaya yang dipilih dapat membantu untuk menjadi orangtua yang lebih baik.

Akupuntur Atasi Migrain

AKUPUNTUR seperti yang kerap diterapkan oleh para tabib dan dokter Traditional Chinese medicine (TCM) dapat mengurangi sakit migrain. Demikian sebuah penelitian mengungkap. Para peneliti dari Italia ini menemukan bahwa perawatan teratur dengan akupuntur yang tepat membantu memperbaiki gejala pada 32 pasien yang menderita migrain yang sudah resisten atau kebal dengan obat.

Lebih lagi, terapi ini bekerja lebih efektif dibanding dengan dua bentuk akupuntur palsu lain yang digunakan sebagai perbandingan. Demikian diungkapkan para peneliti dalam Medical Journal Headache.

Pada penelitian sebelumnya, menyisakan hasil yang cukup kontradiksi atas perawatan migrain dengan akupuntur. Beberapa peneliti menilai bahwa penggunaan akupuntur yang tidak tepat, menggunakan jarum tumpul dan tidak sampai menembus kulit juga dikatakan menurunkan gejala seperti akupuntur yang sebenarnya. Tentu hal ini menyisakan pertanyaan mengenai efek biologis akupuntur.

Meski begitu, masalahnya, pada penelitian ini, terdapat inkonsistensi desain (penelitian), juga penggunaan poin atau titik akupuntur yang tidak sesuai dengan titik-titk yang seharusnya ditusuk.

Akupuntur telah digunakan lebih dari 2000 tahun dalam pengobatan China untuk mengatasi beragam masalah kesehatan. Menurut pengobatan tradisional ini, titik-titik spesifik pada akupuntur ini terkait dengan jalur internal tubuh yang membawa energi atau Qi (chi) dan merangsang titik-titik ini dengan jarum dapat meningkatkan aliran Qi ini.

Pada penelitian terakhir, Dr. Enrico Facco dari Universitas Padua dan koleganya melihat bagaimana secara tradisional akupuntur diperbandingkan dengan teknik akupuntur pura-pura (tanpa jarum tajam) untuk mencegah migrain.

Secara acak mereka meilih 160 pasien yang mengalami migrain menjadi empat kelompok: Pada kelompo satu, pasien menerima dua kali seminggu sesi akupuntur tradisional. Kelompok kedua menjalani akupuntur pura-pura. Kelompok ketiga juga menjalani akupuntur pura-pura tetapi menggunaka jarum tumpu yang ditusukkan pada ttik-titik akupuntur yang sebenarnya. Dan kelompok keempat merupakan kelompok kontrol yang tidak mendapat terapi akupuntur sama sekali.

Lebih dari enam bulan, Tim Facco menemukan, hanya grup yang menerima tusukan jarum akupuntur dengan tepatlah yang mengalami kesembuhan dari migrain dibanding dengan yang kelompok kontrol. Faktor utama yang baru dari penelitian ini adalah bahwa terapi ini meski berdasar pengobatan tradisional, tetapi menggunakan cara barat yang ilmiah.

Hasilnya menjanjikan, kata Facco, namun penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengkonfirmasi manfaat dari akupuntur tradisional terhadap migrain. Meski begitu, Facco, menambahkan, karena terapi ini hanya berefek samping kecil, dapat digunakan untuk mereka yang menderita migrain yang tidak dapat diselesaikan dengan pengobatan standar.

Belum jelas benar kenapa akupuntur dapat mengurangi migrain. Menambahi teori tradisional berdasar konsep Qi, riset modern dari akupuntur atas migrain ini menyatakan bahwa akupuntur mungkin bekerja dengan cara mengalihkan signal di antara sel-sel saraf atau mempengaruhi pelepasan beragam bahan-bahan kimia di antara sistem saraf pusat.

Pola Makan Buruk, Tren Kanker Usus Besar Meningkat

KECENDERUNGAN masyarakat modern yang menerapkan pola makan buruk, kebiasaan tidak suka sayuran atau makanan berserat, gemar mengonsumsi daging merah atau pun makanan cepat saji (fast food), ternyata telah mengakibatkan kasus penyakit kanker usus besar (colon) terus meningkat.

Seperti diungkapkan ahli gastroenterologi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Dr Ari Fahril Syam SpPD-KGEH, MMB, tren kasus kanker usus besar akhir-akhir ini makin terlihat di masyarakat.

¨Trennya bisa dibilang terus meningkat. Memang belum ada data pasti mengenai prevalensi penyakit kanker di Inidonesia, tetapi kalau berdasarkan data pasien di RSCM, jika dulu ditemukan satu kasus setiap minggunya, kini meningkat hingga dua kasus setiap minggunya,¨ ungkap Dr Ari di sela-sela diskusi dengan media massa di Jakarta, Selasa (8/4).

Ia menambahkan, tren meningkatnya kanker usus besar ini tidak terlepas dari berbagai faktor seperti genetika, pola makan yang buruk hingga konsumsi lemak berlebihan dan kurangnya makanan berserat.

¨Kanker ini sekarang banyak ditemukan baik pada pria maupun wanita, pada usia rata-rata 40 hingga 50 tahun. Ini bisa terjadi karena kurangnya makanan tinggi serat serta akibat terlalu banyak konsumsi lemak sehingga menimbulkan perlukaan pada usus, sembelit, timbul polip dan gangguan usus lainnya. Untuk itulah masyarakat juga disarankan untu melakukan deteksi dini, terutama bagi yang berusia 40-an,¨ ujarnya.

Dr Ari berpesan, kalaupun harus mengonsumsi daging, masyarakat sebaiknya mengimbanginya dengan sayuran atau pun makanan berserat supaya pencernaannya tidak terganggu. Selain itu, Dr Ari juga menyarankan masyarakat untuk lebih memilih daging putih yang relatif lebih menyehatkan bagi tubuh ketimbang daging merah.

¨Daging merah itu kandungan kolesterol dan lemaknya relatif lebih tinggi ketimbang daging putih. Banyak pula penelitian yang menyebutkan bahwa daging merah berkaitan dengan beragam jenis penyakit kanker,¨ terangnya.

Dr Ari menjelaskan pula, awal terjadinya kanker ini berkaitan dengan munculnya polip di usus besar. Gejala kanker ini nyaris mirip dengan diare, yaitu adanya darah dalam tinja. Gejala akhir termasuk pucat, sakit pada umumnya, kurus, malnutrisi, lemah, terjadi cairan di dalam rongga perut, pembesaran hati, serta pelebaran saluran limpa.

Pemeriksaan atau deteksi kanker usus besar kini dapat dilakukan dengan banyak cara termasuk dengan metode fiberoptik kolonoskopi atau pun CT-Scan. Dalam beberapa tahun terakhir, dengan ditemukannya MultiDetectorsCT (MSCT), kolonoskopi bisa dilakukan secara cepat dan lebih nyaman bagi pasien. Hasil yang diperoleh pun relatif akurat, karena alat itu mampu menghasilkan 16 slice, sehingga pemeriksaan lebih detail.

Muntah Dipaksakan Bisa Lukai Kerongkongan

BANYAK yang berpandangan bila perut merasa sangat mual lebih baik dimuntahkan saja supaya merasa lebih baik. Namun, pandangan tersebut dari segi medis ternyata tidak sepenuhnya benar karena muntah yang dipaksakan  justru dapat melukai dan merusak kerongkongan.

“Muntah itu kalau bisa dihindari, tapi kalu tidak bisa ditahan, yah sudah. Tapi jangan sampai dipaksakan untuk muntah kalau merasa mual,” ungkap ahli gastroenterologi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo  Dr. Ari Fahrial Syam  SpPD, KGEH, MMB, dalam acara media seminar di Jakarta, Selasa (8/4).

Menurut penjelasan Dr. Ari, muntah dianggap tidak baik karena membawa cairan lambung yang seharusnya dibuang lewat saluran pencernaan bagian bawah dan bukannya keluar lewat saluran pencernaan atas.

“Cairan lambung itu harusnya turun ke bawah, bukan ke atas. Kalau muntah itu, cairan lambung dibuang lewat atas, hal ini dapat melukai kerongkongan,” jelasnya.

Jadi, Dokter Ari menganjurkan, jika merasa mual, lebih baik segera minum obat atau minum teh hangat daripada muntah. “Lebih baik berusaha minum obat atau minum teh hangat untuk mengurangi mual,” ujarnya.

Dr Ari  menambahkan pula, selain menghindari muntah atau mengeluarkan makanan dan cairan lewat mulut, kebiasaan sendawa atau membuang gas lewat mulut juga sebaiknya dihindari karena sama-sama dapat merusak saluran kerongkongan.  “Sendawa pun harus sebaiknya jangan dipaksakan karena itu berarti mengeluarkan udara tau gas dari dalam lambung.  Bila berlebihan dapat menyebabkan perlukaan di saluran kerongkongan,” tandasnya.